• 0877-0506-6000
  • 0813-1451-9500
  • D289528A

SELAMAT DATANG DI WEBSITE KAMI

Pangsa Pasar Asuransi

  • 14075 views
  • -1 comments

Dahulu dikisahkan, ada seorang sales sepatu pabrikan ternama yang ditempatkan di salah satu negara di Afrika. Teman-teman dan kolega mencemoohnya dan mengatakan kariernya akan hancur mengingat banyak penduduk di negara itu yang biasa tidak bersepatu. Namun dia menolak semua cemoohan itu. Menurut dia, masih banyaknya penduduk yang tidak bersepatu di Afrika justru menjadi peluang dirinya untuk menjual sepatu lebih banyak.

Kisah inspiratif itu membuka tabir mengenai tipisnya perbedaan antara peluang dan hambatan. Bisa jadi yang dikatakan orang sebagai sebuah halangan dalam berbisnis justru sejatinya adalah peluang besar.

 



Kondisi yang mirip dengan bisnis sepatu di Afrika, terpampang jelas pada bisnis asuransi di Indonesia. Dengan jumlah penduduk mencapai 237,56 juta jiwa, jumlah polis asuransi yang beradar hanya 16,75 juta. Berarti, perbandingan polis asuransi per populasi cuma 0,07. Fakta itu cukup kontras jika membandingkannya dengan dua negara jiran Malaysia dan Singapura yang angkanya masing-masing sudah mencapai 0,44 dan 2,31.

Dengan memperhitungkan pertumbuhan industri selama satu dekade terakhir pun angka pemegang polis itu di Indonesia masih terbilang minim, apalagi jika dikaitkan dengan jumlah premi asuransi. Pada 2005, misalnya,

premi asuransi jiwa mencapai Rp 22,29 triliun, tapi pemegang polis individu hanya 5,12 juta. Tahun silam, ketika premi asuransi jiwa mencapai Rp 74,64 triliun, pemegang polis individu cuma 8,88 juta. Artinya peningkatan premi yang nyaris empat kali lipat hanya diikuti oleh pertambahan polis tak sampai dua kali lipatnya.

Sementara itu, jika melihat pertumbuhan bisnis, industri asuransi sebenarnya sangat prospektif. Tahun lalu saja, aset asuransi jiwa, umum, dan reasuransi mencapai Rp229,20 triliun, naik 26 persen dibanding tahun sebelumnya Rp 181,80 triliun. Adapun pendapatan premi meningkat 20,2 persen menjadi Rp 104,27 triliun. Hasil investasi juga tumbuh 9,29 persen menjadi Rp 25,11 triliun, sedangkan laba bersih melonjak 22,29 persen menjadi Rp 8,89 triliun.

Tetapi memang, sekali lagi, pencapaian kinerja industri asuransi belum seberapa dibandingkan produk domestik bruto (PDB) negeri ini. Kontribusi sektor asuransi terhadap PDB baru sekitar 1,9 persen. Perbandingan jumlah premi per kapita (insurance density) di Indonesia juga masih rendah. Setiap penduduk Indonesia rata-rata hanya mengeluarkan dana sekitar Rp 448 ribu untuk membayar premi asuransi.

Besarnya potensi yang dibarengi oleh kinerja yang belum optimal inilah yang mendorong perusahaan-perusahaan untuk memandang kondisi itu dengan cara berbeda. Misalnya PT Avrist Assurance (Avrist). Perusahaan yang selama ini bergelut di asuransi jiwa, akhir September 2011 lalu menghadirkan asuransi umum dengan nama PT Avrist General Insurance. Ekspansi itu dilakukan demi menggarap peluang besar pasar asuransi yang ada di dalam negeri. “Avrist general Insurance didirikan untuk mewujudkan satu polis Avrist dalam setiap rumah tangga di Indonesia,” ujar Vice President Director Avrist, Adi Purnomo Wijaya.

Bahkan, menegaskan hingga akhir 2011, Avrist General Insurance menargetkan perolehan premi Rp2 miliar dan pada tahun 2012 membidik target premi Rp 20 miliar. Sebagai tahap awal, perusahaan yang tadinya bernama asuransi AIA fokus mengembangkan pasar asuransi sektor retail dan SME (Small Medium Enterprise). Untuk itu, perusahan asuransi yang juga dimiliki oleh investor Jerman ini akan mengoptimalkan saluran distribusi pemasaran melalui agensi, broker dan mitra strategis lainnya. seperti perbankan dan lembaga keuangan non bank lainnya.

Langkah yang sama juga dilakukan oleh PT Axa Mandiri. Ke depan, perusahaan patungan antara PT Bank Mandiri Tbk dengan AXA Financial tersebut juga akan menghadirkan layanan asuransi umum dengan membidik pasar yang selama ini telah menjadi bagian dari layanan Bank Mandiri seperti nasabah KPR dan multifinance Bank Mandiri.

Asuransi Jepang

Tak hanya pemain lokal yang berminat memperluas pasar asuransi umum, beberapa perusahaan asuransi umum Jepang juga mengincar pangsa pasar bisnis proteksi asuransi umum di Indonesia. Salah satunya adalah The Non-Life Insurance Institute of Japan. Sebagaimana dikatakan oleh Presiden Director Fudej I Hama, pangsa pasar industri asuransi di Indonesia masih sangat besar jika dibandingkan dengan Jepang, sebaliknya, penetrasi asuransi justru masih kecil.

Hal itu berbeda dengan situasi di Jepang di mana pertumbuhan industri asuransi cenderung stagnan dengan angka penterasi yang tinggi. “Jumlah penduduk Indonesia sangat banyak. Selain itu, meskipun penetrasi bisnis asuransi masih kecil, akan tetapi trennya naik. Ini adalah pangsa pasar yang menarik,” ujar dia.

Saat ini grafik pertumbuhan premi perusahaan asuransi di Jepang cenderung turun dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu terutama terlihat jelas sejak deregulasi pada 1996. Sebelum deregulasi pada 1996, pertumbuhan premi perusahaan asuransi justru menunjukkan grafik meningkat.

Oleh karena itu, potensi bisnis yang besar di Indonesialah yang mendorong perusahaan asuransi Jepang untuk mengembangkan pangsa pasar. Apalagi dengan potensi pertumbuhan ekonomi dan pendapatan domestik bruto yang tinggi, Indonesia menjadi pasar yang menarik dan atraktif, kata Fudej I Hama.

Sementara Yasushi Kuriyama, Direktur Pelaksana Asosiasi Asuransi Umum Jepang (The General Insurance Association of Japan), mengatakan perusahaan asuransi Jepang tidak akan masuk ke dalam pasar Indonesia sebagai perusahaan mandiri.

Dia mengatakan perusahaan asuransi Jepang masuk melalui skema merger atau joint venture. Dia menyebutkan sebanyak lima besar perusahaan asuransi umum di Jepang yang telah masuk ke pasar di dalam negeri antara lain Tokio Merine, Nipponkoa, Sompo Japan, Mitsui Sumitomo Metlife, dan Aioi Life.

Mitsutaka Sato, Presiden Direktur PT Asuransi Tokio Marine Indonesia, mengatakan pihaknya akan mengembangkan bisnis dengan meningkatkan kontribusi dari segmen pasar nasabah lokal (penduduk Indonesia). Segmen pasar nasabah lokal saat ini memberikan kontribusi sebesar 50 persen terhadap keseluruhan perolehan premi bruto (gross written premi/GWP). Angka tersebut hampir sama dengan kontribusi yang berasal dari nasabah asal Jepang yang tinggal di Indonesia.

Mitsutaka menambahkan, dalam lima tahun ke depan pihaknya akan meningkatkan porsi nasabah lokal menjadi 60 persen, sementara 40 persen sisanya adalah dari nasabah Jepang. Hingga Agustus 2011, Tokio Marine Indonesia mencatatkan perolehan GWP sebesar 30 juta dollar AS, atau 40 persen dari target tahun ini sebesar 75 juta dollar AS.

Tentu saja dengan semakin tingginya minat asing untuk masuk ke pasar dalam negeri, persoalan rivalitas tidak bisa dihindari. Apalagi setelah dibolehkan memiliki saham lebih dari 80 persen di sektor asuransi, perusahaan asing yang kaya modal dan teknologi, punya jaringan luas dan SDM berkualitas, bakal mendominasi industri asuransi nasional. Bahkan, sekitar 80 persen premi asuransi jiwa telah dikuasai perusahaan asing dan patungan.

Untuk itu, diharapkan berbagai persoalan yang dihadapi industri asuransi nasional dapat segera diselesaikan, satu per satu, tuntas, tanpa mencederai hakikat bisnis asuransi itu sendiri. Para pemangku kepentingan, terutama pemerintah dan pelaku bisnis asuransi, harus memiliki visi yang sama bahwa industri asuransi adalah aset nasional yang harus dirawat, dijaga, dan didorong agar memberikan akselerasi yang optimal bagi perekonomian di dalam negeri, mengingat kontribusi sektor asuransi terhadap PDB masih sangat minim, baru sekitar 1,9 persen.

Komentar
Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Bisnis Asuransi, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.
Contact Us
  • 0877-0506-6000
  • 0813-1451-9500
  • D289528A
    Facebook
    Visitor
    • Jadilah yang pertama tahu penawaran menarik & promosi serta berita terbaru dari Bisnis Asuransi
    • Masukkan Angka berikut

    Disclamer **

    "Hasil Pendapatan Komisi Seorang Agen Asuransi Bervariasi Tergantung Dari Usaha Dan Kemauan Anda Untuk Mendapatkan Nasabah. Ini Bukan Skema Cara Cepat Menjadi Kaya, Ini Adalah Suata Cara Bekerja Untuk Mendapatkan Income Yang Tak Terbatas. Siapa Yang Lebih Rajin Pasti Akan Mendapatkan Income Yang Lebih Besar."

    ================================================